Pagi Itu
Saturday, April 18, 2009
.............................................................................
.............................................
....................................................................................
Sabtu Pagi cuaca diluar sangat cerah, Dita masih termangu menikmati sarapan pagi. “siang ini jam 14:00 aku berangkat dari Papua, kantor rekomendasikan aku nginap di hotel “A” kita bisa ketemu khan?” begitu isi pesan singkat di hp nya. Perasaan Dita berlompatan saat itu, masih belum percaya, tapi dia berusaha untuk meyakinkan hatinya bahwa Andre kekasihnya benar-benar akan ke Jakarta sore ini.

Seperti waktu yang telah di janjikan Dita akan menemui Andre, namun sudah beberapa kali menghubungi tak ada jawaban, Dita pun nampak gelisah…sementara waktu terus bergulir, Dita menunggu sampai jam dua belas malam tapi tak ada kabar apapun dari Andre bahkan hp nya pun off.

Angin terasa dingin menusuk tulang, dan tak terasa waktu subuh hampir tiba, matanya tak bisa dipejamkan dan tiba-tiba muncul ribuan tanya dalam hati. Ada keraguan menggelayut di pikirannya. Apa yang terjadi dengannya? haruskah kuteruskan hubungan ini? Haruskah ku biarkan cinta ini untuknya? tanya Dita dalam hati.

Tidak seperti biasanya, rasanya ada yang aneh setiap kali aku hubungi Andre tidak pernah ada jawaban, gumamnya dalam hati, namun dia berusaha untuk tetap tenang . Mungkin saja Andre sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa menjawab, Dita berusaha menghibur hatinya.

Aku masih ingat saat terakhir bertemu Andre, senja itu terlihat langit merah menyala. Bias merahnya menerpa daun-daun kering yang berserakan di bawah bangku yang kami duduki. Tiba-tiba saja wajahnya merona kembali melintas, menyuguhkan senyuman manis yang begitu khas. Kunikmati setiap teguk senyumnya, Kulihat binar matanya yang bening, sebening telaga yang telah menenggelamkanku dalam buaian cintanya, semua terlihat jelas di anganku.. Kenang Dita melupakan kekecewaannya.
****
Senin pagi aku berusaha untuk datang ke hotel dimana Andre menginap, namun ada keraguan, ”bagaimana kalau Andre tak mau menemuiku?”gumamku lirih. Masih seperti kemarin, Andre sama sekali tak menjawab panggilan telponku. Aku menuju ke reception hotel tempat Andre meniginap. Tetapi aku tidak mendapatkan informasi apapun tentang Andre di hotel ini, bahkan pegawai reception pun terkesan menutup-nutupi tamu atas nama Andre. Lalu aku diminta menghubungi Andre untuk memastikan bahwa dia benar-benar mau menemuiku. Setengah putus asa dan dengan rasa kesal, aku mencoba sms Andre, kukatakan padanya bahwa aku ada di hotel tempat dia nginap. ”Andre, aku skrg ada di hotel, tolong beri aku waktu 5 menit saja untuk ketemu. Setelah itu apapun keputusanmu aku siap”. Selang beberapa detik Andre membalas sms ku, ”aku lagi sarapan, datang aja”.
...............
Aku sangat lega. Kutemui Andre di lobby hotel, diapun menyambut kedatanganku. Kami saling berpandangan, lalu diciumnya keningku. Diambilkannya segelas jus jeruk dan croisant kesukannku, kami sarapan bersama.
”Aku menyebalkan ya?” tanyanya menyelidik.
Udahlah gak berlu dibahas aku ngerti kok, jawabku menyudahi pembicaraan.
Ada rasa lelah yang dapat kutangkap dari tatapannya. Aku tak mempedulikan apa yang telah terjadi kemarin, tetapi kami menikmati pertemuan pagi ini.
..........................................
Usai sarapan Andre mengantarkanku ke kantor yang tak terlalu jauh dari kantor Andre, sesaat sebelum aku turun dari mobilnya diraihnya tanganku ”maafin aku ya, udah buat kamu kesal,” ”Aku mencintaimu dengan sepenuh hati, dan jangan pernah ragukan itu” ucapnya dengan nada serius. Bagai angin segar yang berhembus, Aku sangat bahagia dengan ucapannya.
..............................................
Pagi itu lenyaplah sudah segala ragu dan pertanyaan di hatiku. Yang ada adalah rasa bahagia dengan cintanya Andre untukku.
.......................
Real story seorang teman dekat saya...
posted by Embun Pagi @ 11:45 PM

9 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home

 
My Photo
Name:
Location: Jakarta, Indonesia
Previous Posts