Bias Embun Pagi

Hujan di Akhir Senja
Saturday, January 9, 2010 | 5 Comments | Links to this post

.......................................................
Senja telah berlalu. Rinai hujan tak juga usai.. gadis itu masih duduk terpaku menghadap ke arah rinai hujan
“Belum mandi juga?” Tanya Papanya…“Aku masih ingin duduk di sini Pa, sampai nanti, sampai aku menemukan kesejukan malam ini,” ujar gadis itu. Seperti biasanya setiap hujan turun di akhir senja gadis itu berada di depan jendela, kamarnya.

Entah apa yang dirasakannya Sedih? Atau bahagiakah”. Sudahlah, tak usah dipikirkan lagi, yakinlah bahwa semua akan baik² saja..,” kata sang Papa…
Gadis itu masih saja termenung mematung. Matanya masih menari di tengah curah hujan yang enggan berhenti. Dia masih asik menikmati kemerdekaannya. Menikmati kebebasan pikirannya.

Dina, nama Gadis itu kemudian berlalu ke arah pintu. “Sampai kapan kamu akan duduk disini,” ujar Papanya lagi. Tak satupun kata-kata yang keluar dari bibir Dina...sementara tubuh mungilnya masih tetap nampak cantik dengan kaos oblong dan cardigan kesukaannya… Dina masih saja hening dan tak bergeming dalam sepi yag abadi. “Aku masih ingin disini,” gumamnya pada diri sendiri. Gadis itu itu kemudian memandangi potret kekasihnya yang menggantung di dinding kamarnya. Sambil kembali melempar pandang ke arah hujan, airmatanya pun mulai menggenang.

“Sampai kapan aku dalam keadaan seperti ini?” bisiknya kepada dinding-dinding dingin. Sementara diluar hujan masih terus menggantung, gelap dan dingin. “Apa yang salah dengan dirku? Aku mau mati. tapi aku tau itu dosa, Oh Hujan, bagaimana aku harus mejelaskan ini kepadanya … Hujan masih terus merinai, sesekali tempiasnya menembus masuk ke dalam ruangan. Gadis itupun masih terus termenung tentang kekasihnya….

Di langit hujan belum juga berhenti mengguyur. Tak hanya di langit hujan mengguyur, tapi juga di hatinya. Gadis itu hanya bisa menatap dunia dari balik jendela. Dia tak bisa hidup di dalam alam merdeka karena sakit yang di deritanya…Hidupnya bersembunyi di balik luka. Dia masih terkurung di dalam pikirannya. Dia hanya merasa bahagia tiap kali memandang hujan yang turun di senja hari dari balik jendela...

Pukul 11 malam, ketika hujan telah mereda…sang Papa kembali menghampirinya, “Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan, yaa setidaknya untuk dirimu sendiri dan juga Papa. Papa sangat butuh ide² kamu, dan satu hal yang harus kamu tau Papa tak ingin kehilangan kamu anak perempuan satu-satunya" ucap Papanya dengan nada lirih.…Gadis itupun akhirnya tersenyum kali ini. Dia tak tak lagi duduk menghadap jendela. Perlahan diraihnya noteboknya, Gadis itupun mulai menulis tentang semua yang ada di pikirannya….
posted by Embun Pagi @ 9:32 PM