Bias Embun Pagi

Mengertikah Engkau
Monday, July 6, 2009 | 7 Comments | Links to this post
..................................................................................................................................................................
.......................

Angin masih berdesir membelai rambutnya yang tergerai menutupi dahi, dan beberapa titik jerawat bertengger di antara alisnya yang hitam dan sedikit menyatu. Berkali-kali perempuan itu mengernyitkan dahinya yang dari kejauhan seolah menahan luapan segala rasa agar tak pecah dan membuncah..
..
Lihat langit di atas kepala yang mendung mengandung air kelam, hitam, dan membawa beberapa rintik hujan yang sebagian sudah membasah. Beberapa kali semenjak aku duduk di sini di depan sebuah kaca jendela yang sisi-sisinya ada beberapa titik hujan yang jatuh dan memantul ke kaca lalu mengembun mengaburkan bayangmu, aku hanya bisa menarik nafas panjang yang kembang kempis menahan sesuatu.
..................................................................
Hujan sudah mulai deras tanpa kilat, angin bergelombang memainkan poniku, dan kedua lenganku hanya bisa memeluk diri. Aku mulai menggigil, Tangan kananku berusaha menyeka lembut air hujan yang jatuh di pipi dan dekat mata sedikit di samping dahi. Mungkinkah kamu sedang menunggu seseorang yang berjanji akan menemuimu di sudut jalan sana?.. Mungkinkah kamu menunggu serangkaian kata menghambur dari pucuk hujan yang bercerita tentang kekasihmu?.. Apakah dia yang akan mengajakmu berkeliling kota, membeli es krim, duduk di taman, dan bercerita banyak tentang keluarga, pekerjaan, dan hari esok..? pertanyaan itu terdengar samar namun berulang-ulang. Aku mulai pusing dengan kemungkinan-kemungkinan..
.....................................................................................................
Tubuhnya mulai berbulir keringat. Sedang waktu terus menjerat, kakiku yang mulai kesemutan..tangan mulai kaku dan mulutpun terasa beku. Aku tak bisa mendengar apa yang dia katakan. Aku sendiri tidak sadar, sampai akhirnya lamunanku tentang kehidupanku, tentang sakitku, dan tentang kekasihku yang mulai berpaling.. Ini semua masih bias, aku senang melihat dia bahagia.. tapi aku sedih karena tak ada lagi waktu untukku. Mengertikah engkau?... Semoga…
posted by Embun Pagi @ 10:46 PM
 
Retak
Saturday, July 4, 2009 | 5 Comments | Links to this post


.....................................................................
Bukit ,lembah, dan langit tampak biru…
Aku ingin mencumbu hijau, mencumbu biru bercinta dengan alam.
Menyendiri, mencoba melupakan segala sesuatu yang membuat sedih,
Mencoba melupakan segala bahagia yang pernah hadir…
Kerap aku duduk berlama-lama memeluk lutut beralas rerumputan…
Damai tiada tara walau hanya berkawan angin berkawan sepi berkawan bisu..

Bukan berarti aku benar benar sepi dan bisu sendiri..
Dulu dia sering menemani sendiriku
Menemani sepiku menemani bisuku…
Ketika sedang galau terperangkap dalam kegundahan tak bertepi..
Sering aku mencurahkan seluruh isi hati kepadanya…
Sudah sejak lama aku selalu bersamanya..karena ia adalah pendengar yang baik dan berhati putih..membuatku tak enggan menumpahkan segala rasa….

Jangan biarkan hatimu retak dan berderai….
Periksalah separuh hatimu, mungkin ada yang tergores…
Periksalah seluruh hatimu, mungkin ada yang terluka…
Jaga hatimu seperti kamu menjaga keutuhan cintamu…
Jangan biarkan hati dan cintamu tergores dan terluka…
Apakah hatiku memang sedang tergores?...

Aku mulai menimbang dengan gamang kedalaman hatiku sendiri..
Tapi belum kutemukan jawaban…
“Kamu ceroboh kamu telah menggores hatimu sendiri!" terdengar suara suara menuduh….Aku galau. Dalam kegundahan aku duduk memeluk lutut ..Ada luka, ada luka dimana mana, di jari-jariku, di hatiku ! luka ! ada pedih ada nyeri.

Aku mulai menakar kedalaman hatiku lagi, tapi tetap tak menemukan jawaban. Hati? Hati yang mana? Hati yang telah telah luka? Suara-suara menuduh tak henti mengikutiku kemana aku pergi...
Berdamaiah dengan dirimu.. Balut goresan itu dengan kekuatan cintamu..ucapnya dengan nada lirih..Kenapa aku bodoh.. kenapa aku tak pernah mampu mengukur hatiku… atau aku tak pandai memaknainya atau bahkan aku mendengar dan memahami tapi tak mencoba melakukan apa-apa, tak berusaha membalur goresan itu dengan kekuatan cintaku dan membiarkannya tergores dan terluka…
.....................................................
Terimakasih Cinta....
posted by Embun Pagi @ 10:19 PM